Kali ini saya mau bahas tentang pelakor yang berwujud teman kantor. Bisa dibilang dia adalah "sahabat" saya . Sebut saja dia Mawar. Kenapa saya bilang kami "bersahabat"? Well saya bekerja di perusahaan yang baru berdiri, dan hanya beranggotakan dua orang untuk stay di kantor ; saya dan Mawar. Hal ini yang "memaksa" saya dan dia untuk menjadi dekat, karena terbiasa bersama maka kami terlihat seperti sahabat.
Sejak awal, saya kurang sreg dengan tingkah laku dan sifatnya yang bitchy.
99% karyawan di perusahaan kami adalah laki-laki, yang seperti saya katakan bahwa hanya dua orang yg stay di kantor, selebihnya mereka adalah pekerja lapangan. Setiap pagi mereka diharuskan absen dan laporan di kantor terlebih dahulu, sekitaran jam 09.00 mereka wajib bertugas pergi ke lapangan. Rata-rata dari mereka sudah berstatus menikah, hanya ada dua orang saja yang melajang itu pun bukan termasuk laki-laki yang high quality jomblo.
Mungkin, karna kurangnya perempuan di kantor mengakibatkan para karyawan haus akan hal ini. Dan seperti yang kita tau stereotype marketing adalah "genit". Karena saya ada hubungan keluarga dengan sang Boss, mereka nggak berani untuk menggoda saya (ya walaupun ada godaan secara verbal dan alhamdulillah nya nggak sampai yang berani towel-towel). Maka Mawar lah yang jadi bahan pelampiasan para lelaki itu. Yang bikin saya ilfeel, Mawar seperti menikmati.
Sekilas tentang Mawar, dia merupakan anak broken home yang diasuh oleh nenek nya sedari kecil. Ibu nya menikah lagi dan mempunyai keluarga kecil nan bahagia tapi sayangnya beberapa tahun yang lalu ia kembali ke Rahmatullah karna mengidap penyakit kanker. Sedangkan bapaknya juga sudah menikah lagi dan punya seorang anak perempuan dari wanita lain. Wanita yang merupakan ibu tiri dari si Mawar adalah prt (pembantu rumah tangga) yang bekerja di tempat tinggal kakak ku. Sebut saja dia mba. Mawar bisa bekerja di kantor ini karena bantuan dari mba. Tapi sikap nya dengan si mba membuat saya prihatin ( yg baru akhir-akhir ini baru saya ketahui). Awal karir Mawar disini adalah ketika mba meminta ijin kepada saya untuk merekrut Mawar ke perusahaan ini untuk membiayai kuliah nya sendiri. fyi, ia mengambil jurusan hukum disuatu universitas swasta. Saya pun menyampaikan nya ke sang Boss dan akhirnya di setujui.
Ohya, sebelum saya kenal Mawar secara langsung, mba pernah meminta izin cuti untuk menghadiri pernikahan anak nya (Mawar). Ia bilang kalo Mawar akan menjadi istri ketiga dari seorang kyai. Saya shocked saat itu karna umur Mawar yg setahun lebih muda dari saya. Ketika kami sudah menjadi "sahabat" ia curhat kalau saat itu ia menerima lamaran dari sang kyai karna ia berjanji akan membiayai kuliah nya sampai lulus dan hidup nya akan ditanggung spenuh nya. Padahal tanpa rasa cinta ia menerima lamarannya dan akhirnya di tolak oleh sang Ayah. Wtf cara pemikiran si Mawar ini. Saya pun hanya melongo mendengar nya.
Ia sudah mempunyai pacar (kaka senior di kampus nya) dan banyak gebetan lainnya salah satunya karyawan di kantor ini tetapi dari divisi lain (bukan seorang marketing) yang dia pun hanya diperetin tanpa status yang jelas. Pada akhirnya ia menyerah dan ilfeel terhadap Mawar.
Jadi motto dari hidup si Mawar adalah gapapa banyakin gebetan sebelum janur kuning melengkung dan yang penting menguntungkan.
Saya sangat mengerti darimana sifat bitchy nya itu di dapat. Dari ilmu psikologi, kurang nya kasih sayang dari sosok sang ayah lah penyebab nya. Awal nya saya risih melihat tingkah nya yang mau di goda-goda oleh para karyawan hingga intens chat atau video call dengan suami orang but by time, saya terbiasa dengan hal tersebut.
Okay, saya sih bodo amat dengan gaya hidup orang lain selama hal itu tidak merugikan saya. Sampai pada akhirnya, saya kena batu nya !
Ketika Mustafa datang ke Indonesia 20 Hari di Indonesia part I, Kami banyak menghabiskan waktu bersama meskipun saya kerja kadang ia juga ngekor, alasannya karna ngga mau habisin waktunya di Indo tanpa saya. Ngga setiap hari juga sih, karna sometimes dia habisin waktu buat ngobrol sama mama dan main ps sama adik. Kadang pergi ke rumah kaka saya yg jarak nya 5 menit dari kantor , buat main sama keponakan-keponakan.
Disinilah awal cerita dimulai, saya yg membawa Mustafa ke kantor, otomatis memperkenalkannya ke Mawar. Sebelum nya saya sering curhat sama Mustafa tentang bagaimana sifat Mawar dll, so Mustafa ngga terlalu respect sama Mawar dan ngga terlalu yang nanggepin gimana-gimana. Mawar yg terbatas Bahasa Inggris nya, ngga pernah ngbrol secara gamblang ke Mustafa paling hanya say hello , dan kalo mau nanyain sesuatu saya yang jadi translator nya.
Suatu ketika Mawar tanya ke saya apa Mustafa bisa ngajarin dia Bahasa Inggris karna dia ada tugas kuliah berhubangan tentang grammatical. Saya selaku yang menjadi "guru private English" nya Mustafa hanya terkikih, saya bilang ke Mawar kalo butuh bantuan buat ngerjain tugas nya saya juga bisa bantu, karna awal nya saya yg ajarin Mustafa daily conversation, dan Mustafa masih kurang untuk grammar nya. Mawar pun mengalihkan pembicaraan. Namun, ketika Mustafa ada di kantor, Ia memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut ke Mustafa secara langsung. Mustafa yg kurang paham bicaranya si Mawar, menanyakan ke saya apa yg Mawar maksud, dan segera menolak karna memang dasar kurang paham. Mawar pun memasang muka rada cemberut. Disini saya belum mencium bau-bau yang mencurigakan, jadi saya selow aja.
Di lain hari, saya ada keperluan sehingga mengharuskan saya pulang ke rumah kakak untuk membahas pekerjaan kantor, Mawar pun mengajukan diri untuk mengantarkan saya pulang karena sekalian mau mampir ke toko tertentu yg searah. Saat itu Mustafa sedang bermain dengan keponakan saya di ruang tamu. Saya langsung masuk menghampiri kakak saya di kamar nya, sedangkan Mawar menunggu di ruang tamu. Selang 15 menit, kami balik ke kantor. Semuanya berjalan dengan semestinya, tidak ada yg mencurigakan.
Sampai pada akhirnya, di lain hari berikutnya ketika Mustafa dan saya sedang menikmati waktu santai, saya pun iseng mengabadikan foto telapak kaki kami yg ukurannya sangat berbeda jauh. Tiba-tiba Mustafa bilang ke saya dia ingat suatu kejadian. Saya yg penasaran bertanya apa yg terjadi, dan Mustafa pun menceritakan. Kala saya masuk ke kamar kakak saya waktu itu, Mawar yg saat itu menunggu di ruang tamu, duduk di samping nya. Memang ada space bantal besar diantara mereka. Posisi Mustafa saat itu sedang memangku keponakan. Tiba-tiba telapak kaki Mawar menyentuh telapak kaki nya. Mustafa pikir mungkin Mawar ngga sengaja melakukannya, dan ia pun menggeser posisi kakinya. Akan tetapi telapak kaki Mawar kembali menginjak telapak kaki Mustafa lagi. Ia pun kembali menggeser dan Mawar tetap meneruskan aksinya. Hingga Mustafa menggeser tempat duduknya.
Jujur saat itu saya cengo kaget karena How can?
Dan kenapa hal sepenting ini Mustafa baru ceritain ke saya. Mustafa pun bilang karena dia ngga percaya Mawar melakukan hal itu kepada saya dan mungkin juga Mawar ngga sengaja. Semenjak itu Mustafa melarang saya untuk dekat dengan Mawar selain urusan kantor.
So, perasaan saya saat itu kayak speechless. Ngga nyangka saya hampir jadi korban seorang pelakor. Sangat amat beruntung Mustafa jujur dan menghargai hubungan kami. Sikap saya ke Mawar ngga beubah semenjak kejadian itu, saya ngga mau dia ke PD an saya takut akan godaan kegatelannya kepada Mustafa. Saya bukan tipe orang yg meledak-ledak emosinya ke orang. Malah dalam hati saya pengen tau apa lagi yg mau dia lakuin ke Mustafa.
Pernah Mustafa saat itu menjemput saya di kantor karena sepulang kerja kita bakalan pergi malming, Mustafa yg dalam kondisi "abis mandi" wangi nya pun semerbak. Mungkin si Mawar keceplosan bilang,
"hmmm wangi nya, ngga tahan deh pengen macarin"
Saya pun dengan lantang bilang "eh dasar lo ya lakor ngga tau malu"
Dia pun hanya tertawa, mungkin ini bercandaan terselubung buat dia, tapi buat saya ini hal yg ngga wajar. Bagi wanita normal dan punya harga diri ini bukanlah sebuah lelucon. By time saya yg sebelum nya sering menceritakan hubungan saya dengan Mustafa, kini ngga lagi-lagi deh.
Pelakor does exist.
XO
Mungkin, karna kurangnya perempuan di kantor mengakibatkan para karyawan haus akan hal ini. Dan seperti yang kita tau stereotype marketing adalah "genit". Karena saya ada hubungan keluarga dengan sang Boss, mereka nggak berani untuk menggoda saya (ya walaupun ada godaan secara verbal dan alhamdulillah nya nggak sampai yang berani towel-towel). Maka Mawar lah yang jadi bahan pelampiasan para lelaki itu. Yang bikin saya ilfeel, Mawar seperti menikmati.
Sekilas tentang Mawar, dia merupakan anak broken home yang diasuh oleh nenek nya sedari kecil. Ibu nya menikah lagi dan mempunyai keluarga kecil nan bahagia tapi sayangnya beberapa tahun yang lalu ia kembali ke Rahmatullah karna mengidap penyakit kanker. Sedangkan bapaknya juga sudah menikah lagi dan punya seorang anak perempuan dari wanita lain. Wanita yang merupakan ibu tiri dari si Mawar adalah prt (pembantu rumah tangga) yang bekerja di tempat tinggal kakak ku. Sebut saja dia mba. Mawar bisa bekerja di kantor ini karena bantuan dari mba. Tapi sikap nya dengan si mba membuat saya prihatin ( yg baru akhir-akhir ini baru saya ketahui). Awal karir Mawar disini adalah ketika mba meminta ijin kepada saya untuk merekrut Mawar ke perusahaan ini untuk membiayai kuliah nya sendiri. fyi, ia mengambil jurusan hukum disuatu universitas swasta. Saya pun menyampaikan nya ke sang Boss dan akhirnya di setujui.
Ohya, sebelum saya kenal Mawar secara langsung, mba pernah meminta izin cuti untuk menghadiri pernikahan anak nya (Mawar). Ia bilang kalo Mawar akan menjadi istri ketiga dari seorang kyai. Saya shocked saat itu karna umur Mawar yg setahun lebih muda dari saya. Ketika kami sudah menjadi "sahabat" ia curhat kalau saat itu ia menerima lamaran dari sang kyai karna ia berjanji akan membiayai kuliah nya sampai lulus dan hidup nya akan ditanggung spenuh nya. Padahal tanpa rasa cinta ia menerima lamarannya dan akhirnya di tolak oleh sang Ayah. Wtf cara pemikiran si Mawar ini. Saya pun hanya melongo mendengar nya.
Ia sudah mempunyai pacar (kaka senior di kampus nya) dan banyak gebetan lainnya salah satunya karyawan di kantor ini tetapi dari divisi lain (bukan seorang marketing) yang dia pun hanya diperetin tanpa status yang jelas. Pada akhirnya ia menyerah dan ilfeel terhadap Mawar.
Jadi motto dari hidup si Mawar adalah gapapa banyakin gebetan sebelum janur kuning melengkung dan yang penting menguntungkan.
Saya sangat mengerti darimana sifat bitchy nya itu di dapat. Dari ilmu psikologi, kurang nya kasih sayang dari sosok sang ayah lah penyebab nya. Awal nya saya risih melihat tingkah nya yang mau di goda-goda oleh para karyawan hingga intens chat atau video call dengan suami orang but by time, saya terbiasa dengan hal tersebut.
Okay, saya sih bodo amat dengan gaya hidup orang lain selama hal itu tidak merugikan saya. Sampai pada akhirnya, saya kena batu nya !
Ketika Mustafa datang ke Indonesia 20 Hari di Indonesia part I, Kami banyak menghabiskan waktu bersama meskipun saya kerja kadang ia juga ngekor, alasannya karna ngga mau habisin waktunya di Indo tanpa saya. Ngga setiap hari juga sih, karna sometimes dia habisin waktu buat ngobrol sama mama dan main ps sama adik. Kadang pergi ke rumah kaka saya yg jarak nya 5 menit dari kantor , buat main sama keponakan-keponakan.
Disinilah awal cerita dimulai, saya yg membawa Mustafa ke kantor, otomatis memperkenalkannya ke Mawar. Sebelum nya saya sering curhat sama Mustafa tentang bagaimana sifat Mawar dll, so Mustafa ngga terlalu respect sama Mawar dan ngga terlalu yang nanggepin gimana-gimana. Mawar yg terbatas Bahasa Inggris nya, ngga pernah ngbrol secara gamblang ke Mustafa paling hanya say hello , dan kalo mau nanyain sesuatu saya yang jadi translator nya.
Suatu ketika Mawar tanya ke saya apa Mustafa bisa ngajarin dia Bahasa Inggris karna dia ada tugas kuliah berhubangan tentang grammatical. Saya selaku yang menjadi "guru private English" nya Mustafa hanya terkikih, saya bilang ke Mawar kalo butuh bantuan buat ngerjain tugas nya saya juga bisa bantu, karna awal nya saya yg ajarin Mustafa daily conversation, dan Mustafa masih kurang untuk grammar nya. Mawar pun mengalihkan pembicaraan. Namun, ketika Mustafa ada di kantor, Ia memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut ke Mustafa secara langsung. Mustafa yg kurang paham bicaranya si Mawar, menanyakan ke saya apa yg Mawar maksud, dan segera menolak karna memang dasar kurang paham. Mawar pun memasang muka rada cemberut. Disini saya belum mencium bau-bau yang mencurigakan, jadi saya selow aja.
Di lain hari, saya ada keperluan sehingga mengharuskan saya pulang ke rumah kakak untuk membahas pekerjaan kantor, Mawar pun mengajukan diri untuk mengantarkan saya pulang karena sekalian mau mampir ke toko tertentu yg searah. Saat itu Mustafa sedang bermain dengan keponakan saya di ruang tamu. Saya langsung masuk menghampiri kakak saya di kamar nya, sedangkan Mawar menunggu di ruang tamu. Selang 15 menit, kami balik ke kantor. Semuanya berjalan dengan semestinya, tidak ada yg mencurigakan.
Sampai pada akhirnya, di lain hari berikutnya ketika Mustafa dan saya sedang menikmati waktu santai, saya pun iseng mengabadikan foto telapak kaki kami yg ukurannya sangat berbeda jauh. Tiba-tiba Mustafa bilang ke saya dia ingat suatu kejadian. Saya yg penasaran bertanya apa yg terjadi, dan Mustafa pun menceritakan. Kala saya masuk ke kamar kakak saya waktu itu, Mawar yg saat itu menunggu di ruang tamu, duduk di samping nya. Memang ada space bantal besar diantara mereka. Posisi Mustafa saat itu sedang memangku keponakan. Tiba-tiba telapak kaki Mawar menyentuh telapak kaki nya. Mustafa pikir mungkin Mawar ngga sengaja melakukannya, dan ia pun menggeser posisi kakinya. Akan tetapi telapak kaki Mawar kembali menginjak telapak kaki Mustafa lagi. Ia pun kembali menggeser dan Mawar tetap meneruskan aksinya. Hingga Mustafa menggeser tempat duduknya.
Jujur saat itu saya cengo kaget karena How can?
Dan kenapa hal sepenting ini Mustafa baru ceritain ke saya. Mustafa pun bilang karena dia ngga percaya Mawar melakukan hal itu kepada saya dan mungkin juga Mawar ngga sengaja. Semenjak itu Mustafa melarang saya untuk dekat dengan Mawar selain urusan kantor.
So, perasaan saya saat itu kayak speechless. Ngga nyangka saya hampir jadi korban seorang pelakor. Sangat amat beruntung Mustafa jujur dan menghargai hubungan kami. Sikap saya ke Mawar ngga beubah semenjak kejadian itu, saya ngga mau dia ke PD an saya takut akan godaan kegatelannya kepada Mustafa. Saya bukan tipe orang yg meledak-ledak emosinya ke orang. Malah dalam hati saya pengen tau apa lagi yg mau dia lakuin ke Mustafa.
Pernah Mustafa saat itu menjemput saya di kantor karena sepulang kerja kita bakalan pergi malming, Mustafa yg dalam kondisi "abis mandi" wangi nya pun semerbak. Mungkin si Mawar keceplosan bilang,
"hmmm wangi nya, ngga tahan deh pengen macarin"
Saya pun dengan lantang bilang "eh dasar lo ya lakor ngga tau malu"
Dia pun hanya tertawa, mungkin ini bercandaan terselubung buat dia, tapi buat saya ini hal yg ngga wajar. Bagi wanita normal dan punya harga diri ini bukanlah sebuah lelucon. By time saya yg sebelum nya sering menceritakan hubungan saya dengan Mustafa, kini ngga lagi-lagi deh.
Pelakor does exist.
XO
Comments
Post a Comment